Hantu Penjual Jamu di Perempatan Angker

Hantu Penjual Jamu di Perempatan Angker

Di sebuah kota kecil di Jawa Tengah, ada sebuah perempatan jalan yang terkenal angker. Warga setempat menyebutnya Perempatan Rawa Manis. Di siang hari, tempat itu terlihat biasa saja — kendaraan melintas, pedagang kaki lima berjualan, dan anak-anak sekolah pulang sambil bercanda. Namun begitu malam tiba, suasananya berubah drastis. Udara menjadi dingin menusuk, lampu jalan redup, dan sering terdengar suara gamelan samar entah dari mana asalnya.

Konon, puluhan tahun lalu, ada seorang perempuan paruh baya bernama Bu Sarmi yang setiap sore berjualan jamu gendong di perempatan tersebut. Ia dikenal ramah, selalu menyapa pembeli dengan senyum tulus. Namun suatu malam, Bu Sarmi ditemukan tewas tertabrak truk di perempatan itu. Tragisnya, jasadnya baru ditemukan keesokan harinya, dan dagangan jamunya berserakan di jalan bercampur darah.

Sejak kejadian itu, kisah mistis mulai beredar. Warga mengatakan bahwa setiap malam Jumat Kliwon, sekitar pukul 11 malam, sosok perempuan mengenakan kebaya lusuh dan jarik batik akan muncul di perempatan. Di punggungnya tergantung bakul besar berisi botol-botol jamu, persis seperti Bu Sarmi semasa hidup. Ia berjalan perlahan sambil menyanyikan tembang Jawa lirih.

Beberapa pengemudi ojek online mengaku pernah dihentikan sosok tersebut. Ia menawarkan jamu dengan suara serak, “Jamu, Nak? Biar sehat sampai tua…” Saat pengemudi itu mengulurkan uang, botol jamu yang disentuh terasa sangat dingin — dan begitu botol dibuka, isinya bukan cairan herbal, melainkan air bercampur darah segar. Ketika mereka menengok kembali, sosok penjual jamu itu sudah hilang, meninggalkan bau anyir menyengat.

Tidak hanya itu, ada pula kisah seorang pemuda yang mencoba memberanikan diri merekam sosok tersebut menggunakan ponselnya. Dalam video yang direkam, terlihat jelas Bu Sarmi sedang berjalan, namun wajahnya tidak memiliki mata dan hidung, hanya kulit pucat dengan mulut menganga lebar. Anehnya, saat video itu diputar ulang keesokan harinya, yang terdengar hanya suara tertawa perempuan bercampur tangisan.

Warga kini jarang melewati perempatan itu larut malam. Mereka percaya, arwah Bu Sarmi masih berkeliaran, mencari pembeli terakhir yang belum sempat ia layani di malam tragis kematiannya.

Jika suatu malam kamu berada di sana dan mendengar suara lirih menawarkan jamu, jangan menoleh… dan jangan jawab. Karena sekali kamu menyahut, konon arwah Bu Sarmi akan mengikutimu pulang.