Bisikan dari Sumur Tua: Rahasia yang Tak Boleh Diungkap
Di sebuah desa terpencil di Jawa Timur, berdiri sebuah sumur tua yang sudah ratusan tahun tak digunakan. Sumur itu berada di halaman belakang rumah peninggalan kolonial yang kini kosong tak berpenghuni. Batu-batunya penuh lumut, dan di sekitarnya tumbuh pohon beringin besar yang akarnya merayap seperti tangan raksasa mencengkeram tanah.
Warga setempat menyebutnya Sumur Mungelam, yang dalam bahasa daerah berarti “sumur yang menelan”. Menurut cerita turun-temurun, sumur itu dulunya digunakan oleh seorang dukun sakti untuk “mengunci” sesuatu — sesuatu yang katanya tidak boleh dilepaskan ke dunia ini.
Awal Kisah Mencekam
Beberapa tahun lalu, seorang mahasiswa bernama Andi datang ke desa itu untuk meneliti arsitektur rumah kolonial. Ia menginap di rumah kepala desa. Malam kedua, rasa penasarannya membawanya ke halaman belakang, tempat sumur tua berada. Walau warga sudah berpesan agar tidak mendekat, Andi ingin melihatnya sendiri.
Saat berdiri di tepi sumur, ia merasa hawa dingin menusuk tulang. Dari dalam sumur terdengar suara lirih, seperti orang berbisik. Kata-katanya samar, tapi Andi menangkap potongan kalimat:
“Tolong… lepaskan aku…”
Mengira itu hanya ilusi atau suara angin, Andi mencoba memanggil balik, tapi bisikan itu semakin jelas. Suaranya perempuan, parau namun memohon. “Buka… tutupnya… aku akan berterima kasih…”
Rahasia yang Terkubur
Keesokan paginya, Andi bercerita pada kepala desa. Wajah kepala desa langsung pucat. Ia mengatakan bahwa puluhan tahun lalu, seorang gadis desa bernama Sri dibunuh oleh kekasihnya dan jasadnya dibuang ke sumur itu. Sejak saat itu, siapa pun yang mencoba membuka penutup sumur akan mengalami kematian misterius. Bahkan ada yang mengaku melihat tangan pucat keluar dari dalam, mencoba meraih siapa saja yang mendekat.
Andi awalnya menganggap itu sekadar cerita rakyat untuk menakut-nakuti orang. Namun malam ketiga, rasa penasarannya kembali muncul. Ia membawa senter dan mendekati sumur. Kali ini bisikan itu berubah menjadi jeritan, memanggil namanya berulang kali:
“Andi… Andi… buka… cepat!”
Jantungnya berdegup kencang. Tanpa sadar, tangannya sudah memegang tutup kayu sumur itu. Begitu ia sedikit menggeser, semburan udara dingin menyapu wajahnya, dan dari kegelapan muncul dua mata merah menyala.
Akhir yang Menghilang
Keesokan harinya, Andi tidak ditemukan di kamarnya. Senter dan tasnya tergeletak di dekat sumur, tutupnya terbuka sedikit. Polisi dan warga mencari berhari-hari, tapi tubuhnya tak pernah ditemukan.
Kini, sumur itu kembali ditutup rapat dengan semen, namun warga desa percaya arwah Sri — atau apapun yang ada di dalamnya — masih menunggu seseorang yang cukup bodoh untuk mendengarkan bisikan itu lagi.
Pesan warga desa: Jika suatu hari kamu mendengar bisikan dari sumur tua, jangan pernah menjawab. Karena begitu kamu membalas, bisikan itu akan mengikutimu… bahkan dalam mimpi.